Skor yang tidak mengikuti jalannya laga
Sepanjang 90 menit, laga ini terlihat seperti milik Belanda. Mereka lebih banyak pegang bola, lebih sering nongkrong di area Jepang, lebih sering melepas tembakan. Tapi skornya berhenti di 2-2.
Pertanyaannya bukan kenapa Belanda gagal menang. Yang lebih menarik: gimana sebuah tim bisa sedominan itu di lapangan, tapi cuma bawa pulang satu poin? Jawabannya nggak ada di penguasaan bola. Ada di dua kotak penalti.
Banyak masuk kotak, sedikit yang matang
Soal teritori, ini jelas punya Belanda. Possession 60-40. Sentuhan di kotak penalti lawan 33 berbanding 19. Tembakan tepat sasaran 6 lawan 3. Kalau cuma lihat angka-angka ini, susah percaya laga ini berakhir imbang.
Tapi coba ukur dari kualitas peluangnya. xG Belanda cuma 0.74. Jepang 0.54. Tipis. Dan dua-duanya sama-sama cetak dua gol dari angka serendah itu.
Ini yang penting: empat gol di laga ini bukan datang dari peluang-peluang matang. Mereka datang dari penyelesaian yang melebihi ekspektasi. Belanda memang sering masuk ke area Jepang, tapi jarang menciptakan kesempatan yang benar-benar bersih. Banyak, tapi receh.
Menguasai lapangan dan menguasai kotak penalti itu dua hal berbeda. Jepang kalah di yang pertama, tapi cukup tajam di yang kedua.
Bedanya ada di dua kiper
Ada satu angka yang merangkum kenapa laga ini imbang: goals prevented. Sederhananya, ini ngukur seberapa bagus seorang kiper dibanding ekspektasi, berdasarkan kualitas tembakan yang dia hadapi.
Kiper Belanda dapat -1.03. Artinya dia kebobolan lebih dari satu gol yang sebenarnya masih bisa ditahan. Kiper Jepang, Zion Suzuki, dapat +0.35. Dia justru menyelamatkan lebih banyak dari yang seharusnya. Empat penyelamatan, dua di antaranya krusial.
Di situ titiknya. Jepang menciptakan lebih sedikit, tapi peluangnya lebih sering jadi gol. Dan waktu giliran bertahan, gawang mereka lebih susah ditembus dari yang diprediksi. Dua kotak penalti, dua-duanya dimenangkan Jepang. Itu cukup buat membatalkan semua dominasi Belanda di lapangan.
Empat gol, semua di babak kedua
Babak pertama kosong. Empat gol baru pecah setelah turun minum, dan urutannya menceritakan karakter masing-masing tim.
Van Dijk bikin Belanda unggul di menit 51. Tujuh menit kemudian Nakamura nyamain. Summerville, yang akhirnya jadi pemain terbaik laga, bawa Belanda unggul lagi di menit 64. Tapi Jepang nggak mau menyerah. Kamada menyamakan jadi 2-2 di menit 89.
Perhatiin polanya: Jepang ketinggalan dua kali, nyamain dua kali. Gol penyama keduanya datang di ujung laga, dari tim yang sepanjang pertandingan cuma pegang bola 40% dan melepas tiga tembakan tepat sasaran. Itu bukan hasil dari menggempur terus-menerus. Itu hasil dari sabar nunggu momen, lalu nggak nyia-nyiain.
Lalu apa
Buat Belanda, PR-nya bukan soal kurang dominan. Mereka dominan. Yang jadi soal lebih spesifik: kenapa sebanyak itu masuk kotak tapi xG-nya cuma 0.74, dan kenapa gawang mereka kebobolan di atas ekspektasi. Di grup yang ada Swedia dan Tunisia, satu poin dari posisi kayak gini rasanya kayak dua poin yang melayang.
Buat Jepang, hasil ini pas dengan siapa mereka selama beberapa tahun terakhir: tim yang nggak butuh menguasai bola buat bikin lawan repot. Mereka nunggu, terus eksekusi. Tinggal satu pertanyaan: apakah cara ini bisa diandalkan terus, atau cuma jalan waktu lawannya boros di depan gawang kayak Belanda tadi.
Imbang ini bukan kebetulan. Ini cuma dua tim yang menang di tempat berbeda. Satu menguasai lapangan. Satu lagi lebih jitu di dua kotak yang paling menentukan.
Sumber dan catatan
Tulisan ini diringkas dari catatan internal Camus dan sumber publik yang tersedia saat produksi konten.
- FIFA Match Centre - Netherlands vs Japan
- FotMob match page - Netherlands vs Japan
- Sofascore - Netherlands vs Japan